BRICS TALKS: Indonesia Perspective – Mahasiswa HI UPU Medan Kaji Peran Strategis Indonesia di Tengah Pergeseran Kekuatan Global

Medan, 9 Februari 2026 – Universitas Potensi Utama (UPU) Medan kembali menegaskan komitmennya sebagai pusat keunggulan akademik di Sumatera Utara melalui penyelenggaraan kuliah tamu bertajuk “BRICS TALKS: Indonesia Perspective” yang berlangsung di Aula Gedung B, Senin (09/02). Kegiatan ini menghadirkan narasumber utama Leonard F. Hutabarat, Ph.D. , Senior Strategist dari Badan Strategi Kebijakan Luar Negeri, Kementerian Luar Negeri RI, yang juga pernah menjabat sebagai Konsul Jenderal RI di Toronto, Kanada (2018-2021).


Acara yang diinisiasi oleh Program Studi S-1 Hubungan Internasional ini dirancang bukan sekadar kuliah tamu biasa, melainkan sebagai pengayaan substantif yang terintegrasi langsung dengan kurikulum. Puluhan mahasiswa HI UPU tampak antusien mengikuti sesi yang berlangsung interaktif selama tiga jam tersebut.

Dalam paparannya, Dr. Leonard menyoroti bagaimana keanggotaan Indonesia di BRICS merupakan wujud nyata dari implementasi doktrin bebas aktif di era kontemporer. Ia menekankan bahwa BRICS bukan sekadar forum ekonomi, tetapi juga arena negosiasi geopolitik yang kompleks.

“Indonesia tidak bisa lagi menjadi penonton. Melalui BRICS, kita membangun diversifikasi mitra strategis. Ini bukan soal memihak, tapi soal memperluas ruang gerak diplomasi,” ujar Leonard di hadapan mahasiswa.

Yang menarik, kuliah tamu ini sengaja diselaraskan dengan sejumlah mata kuliah unggulan HI UPU. Mulai dari Teori Hubungan Internasional, Negosiasi dan Diplomasi, hingga Ekonomi Politik Internasional. Mahasiswa diajak untuk menganalisis secara kritis teknik lobi Indonesia dalam penyusunan draf Deklarasi Rio de Janeiro 2025, serta membandingkan model pembangunan New Development Bank (NDB) BRICS dengan institusi keuangan Bretton Woods.

Sorotan lain yang menjadi perhatian adalah pembahasan mengenai kedaulatan digital dan Sovereign AI dalam kerangka PartNIR BRICS. Hal ini menjadi relevan karena UPU merupakan salah satu dari sedikit universitas di Sumatera Utara yang mewajibkan mata kuliah Artificial Intelligence (AI) di semua program studi.

“Teknologi digital bukan sekadar alat. Ini adalah medan pertempuran geopolitik baru. Jika Indonesia tidak hadir dalam pembentukan tata kelola AI global, kita hanya akan menjadi objek,” tegas Leonard.

Mahasiswa pun diajak untuk melihat peluang digitalisasi UMKM sebagai pintu masuk ke pasar BRICS. Isu ini langsung terkait dengan mata kuliah Politik Perdagangan Internasional yang selama ini menekankan pentingnya ekonomi digital sebagai instrumen diplomasi bagi negara berkembang.


Ketua Program Studi S-1 Hubungan Internasional UPU, dalam sambutannya, menyampaikan bahwa kegiatan ini merupakan bagian dari strategi jangka panjang untuk mencetak lulusan yang tidak hanya cakap secara teoretis, tetapi juga memiliki ketajaman analisis kebijakan dan keterampilan abad ke-21, termasuk negosiasi dan literasi digital.

“Kami ingin mahasiswa tidak hanya memahami teori, tetapi juga mampu membaca peta geopolitik dan menerjemahkannya menjadi peluang nyata bagi bangsa. Ini adalah bekal mereka menuju Indonesia Emas 2045,” ujarnya.

Dr. Leonard mengapresiasi pendekatan kurikuler yang diterapkan UPU. Menurutnya, integrasi isu global ke dalam perkuliahan adalah langkah maju yang jarang dilakukan perguruan tinggi di daerah.

“Saya melihat antusiasme dan kualitas berpikir kritis mahasiswa HI UPU sangat baik. Mereka tidak sekadar bertanya, tapi mempertanyakan asumsi-asumsi lama. Inilah calon-calon diplomat dan negosiator masa depan yang akan membawa Indonesia bersuara lantang di forum global,” pesannya.

Kuliah tamu ini ditutup dengan sesi networking informal, di mana mahasiswa berkesempatan berdialog langsung dengan narasumber. Harapannya, kegiatan serupa dapat terus digelar secara berkelanjutan guna memperkuat ekosistem akademik yang berorientasi global namun tetap berpijak pada kepentingan nasional dan kearifan lokal.